W E L C O M E

Enjoy the contents and feel free to leave comments ;)

Halaman

Sabtu, 23 April 2016

Mendeskripsikan Rasa

Terlalu cepat bila ku simpulkan ini cinta,
Tetapi, terlalu terlambat bila ku katakan aku tak suka,
Terlalu terlambat bila ku katakan aku tak ingin berharap,
karena hati tak berhenti berucap.

Bagaimana aku akan mendeskripsikannya?
Rasa yg datang tanpa alasan,
Rasa yg datang dalam waktu yg singkat,
Rasa.... yg tak bisa aku deskripsikan

Hanya tak ingin gegabah,

Aksara, Senja, dan Secangkir Kopi


Aksaraku berkelana,
Ingin rasanya kutumpahkan dalam secarik kertas,
Agarku merasa lepas..

Aksaraku bergemuruh,
Akan gelora yg saat ini terpahat di pikiran,
Ingin rasanya kuhancurkan,
Agarku merasa tentram..

Aksaraku menggelitik,
Berharap tawa dan senyum itu bukan hanya kamuflase,

Tak Bernama


Teruntuk yang tak bernama..
Kau adalah seseorang yang selalu kuperbincangkan dengan Tuhanku,
Kau adalah seseorang yang selalu ada dalam goresan aksara-aksara tak bersuara di catatan harianku,
Kau adalah harapan yang selau aku semogakan,
Kau adalah impian dari semestaku di masa depan,

Teruntuk yang tak bernama..
Kau adalah rindu yang tak bertuan,

Sang Fajar

Salam buat sang Fajar,
Lihatlah hari ini,
Ia adalah kehidupan,
Kehidupan dari kehidupan.

Dalam sekejap ia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu.
Nikmat pertumbuhan, indah kemenangan.
Hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi.
Dan hari esok adalah bayangan.

Namun hari ini ketika kau hidup sempurna,
Telah membuat hari kemarin menjadi mimpi indah,

Live, Life, and People


The happiest people are those,
who think the most interesting thoughts.
Those who decide to use leisure as a means of mental development,
who love good music, good books, good pictures, good company, good conversation, are the happiest people in the world.
And they are not only happy in themselves, they are the cause of happiness in others.

Don't you hate it, when people make a joke about you,

Hanya Ranting

Aku bukan lautan yg mampu berikan ketenangan,
hanya dengan melihat biru dan jernihnya air laut,
dengan debur ombak yg terdengar lebih indah dari alunan musik Bethoven, dengan suara layar perahu yg tak menimbulkan kebisingan,
juga angin sepoi-sepoi dan lambaian nyiur kelapa yg membuat kau betah tinggal.
Aku bukan karang yg mampu terus terlihat kokoh,
 meski diterjang ombak berkali-kali.

Aku bukan taman yg memberikan kedamaian,
dan keindahan dengan bunga-bunga yg menawan,
dan hamparan rumput yg membuatnya semakin sejuk dipandang.
Bahkan aku tak seperti salah satu mawar ditaman,
yang terlihat begitu cantik dan harum,
bahkan ditangan orang-orang yg merusaknya.

Setitik Harapan



Bagai tumbuhan yang tumbuh di tanah gersang.
Tak banyak mineral yg bisa ku serap dari tanah.
Hanya terpaan sinar matahari yg terus saja menghujaniku.
Dengan kekurangan ini, aku di paksa untuk terus berfotosintesis.
Menyediakan cadangan makanan untuk diriku sendiri,
dan Oksigen untuk mereka sang manusia..

Tatkala tak sanggup lagi.
Daunku pun mulai menguning, layu, berguguran, dan ada kalanya.. mati..
Di tanah ini, daunku yg menguning merindukan tetesan hujan.
Yang mampu menyejukan,